YUKKKK KENALI 6 GANGGUAN
BELAJAR PADA ANAK ?
Pengertian
gangguan belajar secara bahasa adalah masalah yang dapat mempengaruhi kemampuan
otak dalam menerima, memproses, menganalisis dan menyimpan informasi. Sedangkan
pengertian yang diberikan oleh National Joint Committee for Learning
Disabilities (NJCLD) mengenai gangguan belajar adalah suatu kumpulan dengan
bermacam-macam gangguan yang mengakibatkan kesulitan dalam mendengar,
berbicara, menulis, menganalisis, dan memecahkan persoalan.
Gangguan
belajar termasuk klasifikasi beberapa gangguan fungsi di mana seseorang
memiliki kesulitan belajar dengan cara yang khas, biasanya disebabkan oleh
faktor yang tidak diketahui. Istilah Ketidakmampuan belajar dan gangguan
belajar sering digunakan secara bergantian, keduanya berbeda. Ketidakmampuan
belajar adalah ketika seseorang memiliki masalah belajar yang signifikan di
bidang akademis. Masalah-masalah ini, bagaimanapun, tidak cukup untuk menjamin
diagnosis resmi. Gangguan belajar, di sisi lain, adalah diagnosis klinis resmi,
dimana individu memenuhi kriteria tertentu, sebagaimana ditentukan oleh seorang
profesional (psikolog, dokter anak, dll) Perbedaannya adalah dalam tingkat,
frekuensi, dan intensitas gejala yang dilaporkan dan masalah, dan dengan
demikian keduanya tidak boleh bingung.
Faktor
yang tidak diketahui adalah gangguan yang mempengaruhi kemampuan otak untuk
menerima dan memproses informasi. Gangguan ini bisa membuat masalah bagi
seseorang untuk belajar dengan cepat atau dalam cara yang sama seperti
seseorang yang tidak terpengaruh oleh ketidakmampuan belajar. Orang dengan
ketidakmampuan belajar mengalami kesulitan melakukan jenis tertentu
keterampilan atau menyelesaikan tugas jika dibiarkan mencari hal-hal dengan
sendirinya atau jika diajarkan dengan cara konvensional.
Anak-anak
dengan Learning Disorder yang tidak di terapi, akan mempengaruhi kepercayaan
diri mereka. Mereka berusaha lebih daripada teman-teman mereka, tetapi tidak
mendapatkan pujian atau reward dari guru atau orang tua. Demikian pula, Learning
Disorderyang tidak di terapi dapat menyebabkan penderitaan psikologis yang
besar untuk orang dewasa.
Jenis
gangguan baelajar :
- Disleksia (Dyslexia) adalah gangguan belajar yang mempengaruhi membaca dan /atau kemampuan menulis. Ini adalah cacat bahasa berbasis di mana seseorang memiliki kesulitan untuk memahami kata-kata tertulis.
- Diskalkulia (Dyscalculia) adalah gangguan belajar yang mempengaruhi kemampuan matematika. Seseorang dengan diskalkulia sering mengalami kesulitanmemecahkan masalah matematika dan menangkap konsep-konsep dasar aritmatika.
- Disgrafia (Dysgraphia) adalah ketidakmampuan dalam menulis, terlepas darikemampuan untuk membaca. Orang dengan disgrafia sering berjuang denganmenulis bentuk surat atau tertulis dalam ruang yang didefinisikan. Hal ini juga bisa disertai dengan gangguan motorik halus.
- Gangguan pendengaran dan proses visual (Auditory and visual processing disorders) adalah gangguan belajar yang melibatkan gangguan sensorik. Meskipun anak tersebut mungkin dapat melihat dan atau mendengar secara normal, gangguan ini menyulitkan mereka dari apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka akan seringmemiliki kesulitan dalam pemahaman bahasa, baik tertulis atau auditori (atau keduanya).
- Ketidakmampuan belajar nonverbal (Nonverbal Learning Disabilities) adalahgangguan belajar dalam masalah dengan visual-spasial, motorik, dan keterampilan organisasi. Umumnya mereka mengalami kesulitan dalam memahami komunikasi nonverbal dan interaksi, yang dapat mengakibatkan masalah sosial.
- Gangguan bahasa spesifik (Specific Language Impairment (SLI)) adalahgangguan perkembangan yang mempengaruhi penguasaan bahasa dan penggunaan.
Gangguan belajar
"Disgrafia"
1.
PENGERTIAN DISGRAFIA
Disgrafia
adalah kesulitan khusus dimana anak-anak tidak bisa menuliskan atau
mengekspresikan pikirannya kedalam bentuk tulisan,karena mereka tidak bisa
menyuruh atau menyusun kata dengan baik dan mengkoordinasikan motorik halusnya
(tangan) untuk menulis. Pada anak-anak, umumnya kesulitan ini terjadi pada saat
anak mulai belajar menulis. Kesulitan ini tidak tergantung kemampuan lainnya.
Seseorang bisa sangat fasih dalam berbicara dan keterampilan motorik lainnya,
tapi mempunyai kesulitan menulis. Kesulitan dalam
menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan belajar,
terutama pada anak yang berada di tingkat SD.
Kesulitan dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai
kebodohan oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi
karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran
dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja ia
memiliki hambatan. Sebagai langkah awal dalam menghadapinya, orang tua harus
paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah,
kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar.
Gangguan ini juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan
guru terhadap si anak, ataupun keterlambatan proses visual motoriknya. Dysgraphia
/ Disgrafia adalah learning disorder dengan ciri perifernya berupa
ketidakmampuan menulis, terlepas dari kemampuan anak dalam membaca maupun
tingkat intelegensianya.Disgrafia diidentifikasi sebagai keterampilan menulis
yang secara terus-menerus berada di bawah ekspektasi jika dibandingkan usia
anak dan tingkat intelegensianya.
2.
PENYEBAB DISGRAFIA
Secara
spesifik penyebab disgrafia tidak diketahui secara pasti, namun apabila
disgrafia terjadi secara tiba-tiba pada anak maupun orang yang telah dewasa
maka diduga disgrafia disebabkan oleh trauma kepala entah karena kecelakaan,
penyakit, dan seterusnya. Disamping itu para ahli juga menemukan bahwa anak
dengan gejala disgrafia terkadang mempunyai anggota keluarga yang memiliki
gejala serupa. Demikian ada kemungkinan faktor herediter ikut berperan dalam
disgrafia.
Seperti
halnya disleksia, disgrafia juga disebabkan faktor neurologis, yakni adanya
gangguan pada otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca
dan menulis. Anak mengalami kesuitan dalam harmonisasi secara otomatis antara
kemampuan mengingat dan menguasai gerakan otot menulis huruf dan angka.
Kesulitan ini tak terkait dengan masalah kemampuan intelektual, kemalasan,
asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar.
3.
CIRI-CIRI DISGRAFIA
Ada
beberapa ciri khusus anak dengan gangguan ini. Di antaranya adalah:
a. Terdapat
ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
b. Saat
menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
c. Ukuran
dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
d. Anak
tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau
pemahamannya lewat tulisan.
e. Sulit
memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang alat tulis
f. seringkali
terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
g. Berbicara
pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memperhatikan tangan
yang dipakai untuk menulis.
h. Cara
menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan
proporsional.
i.
Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya
diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.
4.
CARA MEMBANTU ANAK DISGRAFIA
Ada
beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak dengan gangguan
ini. Di antaranya:
a. Pahami
keadaan anak
Sebaiknya pihak orang
tua, guru, atau pendamping memahami kesulitan dan keterbatasan yang dimiliki
anak disgrafia. Berusahalah untuk tidak membandingkan anak seperti itu dengan
anak-anak lainnya. Sikap itu hanya akan membuat kedua belah pihak, baik orang
tua/guru maupun anak merasa frustrasi dan stres. Jika memungkinkan, berikan
tugas-tugas menulis yang singkat saja setiap hari. Atau bisa juga orang tua
dari si anak
meminta kebijakan dari pihak sekolah untuk memberikan tes kepada anak dengan gangguan ini secara lisan, bukan tulisan.
meminta kebijakan dari pihak sekolah untuk memberikan tes kepada anak dengan gangguan ini secara lisan, bukan tulisan.
b. Menyajikan tulisan cetak
Berikan kesempatan dan
kemungkinan kepada anak disgrafia untuk belajar menuangkan ide dan konsepnya
dengan menggunakan komputer atau mesin tik. Ajari dia untuk menggunakan
alat-alat agar dapat mengatasi hambatannya. Dengan menggunakan komputer, anak
bisa memanfaatkan sarana korektor ejaan agar ia mengetahui kesalahannya.
c. Membangun
rasa percaya diri anak
Berikan pujian wajar
pada setiap usaha yang dilakukan anak. Jangan sekali-kali menyepelekan atau
melecehkan karena hal itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustrasi.
Kesabaran orang tua dan guru akan membuat anak tenang dan sabar terhadap
dirinya dan terhadap usaha yang sedang dilakukannya.
d. Latih
anak untuk terus menulis
Libatkan anak secara
bertahap, pilih strategi yang sesuai dengan tingkat kesulitannya untuk
mengerjakan tugas menulis. Berikan tugas yang menarik dan memang diminatinya,
seperti menulis surat untuk teman, menulis pada selembar kartu pos, menulis
pesan untuk orang tua, dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan
menulis anak disgrafia dan membantunya menuangkan konsep abstrak tentang huruf
dan kata dalam bentuk tulisan konkret
Adapun penanganan secara terstruktur dapat dilakukan
melalui beberapa hal berikut:
1.
Faktor kesiapan menulis
Menulis
membutuhkan kontrol maskular, koordinasi mata-tangan, dan diskriminasi visual.
Aktivitas yang mendukung kontrol muskular antara lain: menggunting, mewarnai
gambar, finger painting, dan tracing. Kegiatan koordinasi
mata-tangan antara lain: membuat lingkaran dan menyalin bentuk geomteri.
Sementara itu, pengembangan diskriminasi visual dapat dilakukan dengan kegiatan
membedakan bentuk, ukuran, dan detailnya, sehingga anak menyadari bagaimana
cara menulis suatu huruf.
2.
Aktivitas lain yang mendukung
a.
Kegiatan yang memberikan kerja
aktif dari pergerakan otot bahu, lengan atas serta bawah, dan jari.
b.
Menelusuri bentuk geometri dan
barisan titik.
c.
Menyambungkan titik.
d.
Membuat garis horizontal dari kiri
ke kanan.
e.
Membuat garis vertikal dari atas ke
bawah dan dari bawah ke atas.
f.
Membuat bentuk-bentuk lingkaran dan
kurva.
g.
Membuat garis miring secara
vertikal.
h.
Menyalin bentuk-bentuk sederhana.
i.
Membedakan bentuk huruf yang mirip
bentuknya dan huruf yang hampir sama bunyinya.
3.
Menulis huruf lepas/cetak
a.
Perlihatkan sebuah huruf yang akan
ditulis.
b.
Ucapkan dengan jelas nama huruf dan
arah garis untuk membuat huruf itu.
c.
Anak menelusuri huruf itu dengan
jarinya sambil mengucapkan dengan jelas arah garis untuk membuat huruf itu.
d.
Anak menelusuri garis tersebut
dengan pensilnya.
e.
Anak menyalin contoh huruf itu di
kertas/bukunya.
f.
Jika cara ini sudah dikuasai,
mintalah anak menyambungkan titik yang dibentuk menjadi huruf tertentu, sampai
akhirnya anak mampu membuat huruf dengan baik tanpa dibantu. Tahap selanjutnya
adalah menulis kata dan kalimat.
4.
Menulis huruf transisi
Huruf
transisi adalah huruf yang digunakan untuk melatih siswa sebelum menguasai
huruf sambung. Adapun langkah-langkah pengajarannya sebagai berikut:
a. Kata
atau huruf ditulis dalam bentuk lepas atau cetak.
b. Huruf
yang satu dan yang lain disambungkan dengan titik-titik dengan meggunakan warna
yang berbeda.
c. Anak
menelusuri huruf dan sambungannya sehingga menjadi bentuk huruf sambung.
5.
Menulis huruf sambung
a.
Mengajarkan huruf sambung dapat
menggunakan langkah-langkah huruf lepas dan transisi.
b.
Kami sertakan tabel cara melatih
anak disgrafia agar dapat menulis dengan baik dan benar.
|
Faktor
|
Masalah
|
Penyebabnya
|
Remedial
|
|
Bentuk
|
Huruf terlalu miring
|
Posisi kertas yang
miring
|
Betulkan posisi
kertas sehingga tegak lurus dengan badan
|
|
Ukuran
|
Terlalu besar dan
terlalu tebal
|
|
|
|
Spasi
|
|
|
Ajarkan kembali konsep spasi antar-kata
Kaji kembali konsep bentuk ukuran dan huruf
|
|
Kualitas garis
|
Terlalu tebal atau
menekan terlalu tipis
|
Masalah pada tekanan
tulisan
|
Perbaikilah
cara-cara memegang alat tulis, perbaiki juga gerakan tangan,
serta beikan latihan menulis di atas kertas tipis dan kertas kasar
|
|
Kecepatan
|
Lambat ketika dalam
menulis yaitu ketika menyalin atau saat dikte
|
Tingkat kemampuan
menulis tidak sebanding dengan kecepatannya
|
Latih menarik garis
lurus dengan cepat serta latihan membuat bentuk melingkar, tegak dan
melengkung di kertas berpetak
|
- Mengidentifikasi masalah disgrafia, terdiri dari: masalah penggunaan huruf kapital, ketidakkonsistenan bentuk huruf, alur yang tidak stabil (tulisan naik turun) dan ukuran dan bentuk huruf tidak konsisten.
- Menentukan ZPD pada masing-masing masalah tersebut. ZPD untuk kesalahan penggunaan huruf kapital. ZPD untuk ketidakkonsistenan bentuk huruf. ZPD untuk ketidakkonsistenan ukuran huruf. ZPD untuk ketidakstabilan alur tulisan.
- Merancang program pelatihan dengan teknik scaffolding. Teknik scaffolding dalam pelatihan ini meliputi tahapan sebagai berikut.
- Memberikan tugas menulis kalimat yang didiktekan orang tua/guru.
- Bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kesalahan tulisan mereka.
- Menjelaskan mengenai pelatihan dan ZPD masing-masing permasalahan.
- Menjelaskan kriteria penulisan yang benar dan meminta anak menyatakan kembali kriteria tersebut.
- Memberikan latihan menulis dengan orang tua/guru memberikan bantuan.
- Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa bersama-sama dengan anak.
- Memberikan latihan menulis dengan mengurangi bantuan terbatas pada kesalahan yang banyak dilakukan anak.
- Mengevaluasi hasil pekerjaan bersama-sama dengan anak.
- Memberikan latihan menulis tanpa bantuan orang tua/guru.
- Mengevaluasi pekerjaan anak.
- Pahami potensi dan kondisi anak Terutama bagi orang tua dalam menghadapi hal ini hendaknya orang tua mampu memahami potensi anak dann kemampuannya,jangan kita beranggapan anak yang mengalami masalah ini lalu langsung memvonis bahwa si anak bodoh atau malas.Tapi orang tua harus mampu membangkitkan kemampuan dan semangat si anak agar tidak kalah dengan teman-temannya.Orang tua tetap mensupport dan membimbingya dan terus melatih kemampuan menulisnya.
- Menggunakan alat elektronik Cara lain yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah memberikan alat bantu elektronik kepada anak seperti Komputer ,lapto,atau notebook.Dengan menggunakan alat-alat tersebut si anak akan lebih mudah memahami kesalahan-kesalahannya dalam melakukan latihan menulis.
- Melatih menulis anak Cara yang lain yang lebih baik adalah melatih anak untuk terus menulis secara bertahap dan usahakan agar anak tidak bosan dengan kegiatan tersebut.Adapun cara agar anak tidak mudah bosan untuk menulis adalah usahakan anak untuk menulis sesuatu yang dia sukai seperti menulis apa hal yang paling dia suka,hal yang sering dia lihat dan lainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar