Senin, 06 Juni 2016

YUKKK KENALI 6 GANGGUAN BELAJAR PADA ANAK



YUKKKK KENALI 6 GANGGUAN BELAJAR PADA ANAK ? 


 

Pengertian gangguan belajar secara bahasa adalah masalah yang dapat mempengaruhi kemampuan otak dalam menerima, memproses, menganalisis dan menyimpan informasi. Sedangkan pengertian yang diberikan oleh National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD) mengenai gangguan belajar adalah suatu kumpulan dengan bermacam-macam gangguan yang mengakibatkan kesulitan dalam mendengar, berbicara, menulis, menganalisis, dan memecahkan persoalan.

Gangguan belajar termasuk klasifikasi beberapa gangguan fungsi di mana seseorang memiliki kesulitan belajar dengan cara yang khas, biasanya disebabkan oleh faktor yang tidak diketahui. Istilah Ketidakmampuan belajar dan gangguan belajar sering digunakan secara bergantian, keduanya berbeda. Ketidakmampuan belajar adalah ketika seseorang memiliki masalah belajar yang signifikan di bidang akademis. Masalah-masalah ini, bagaimanapun, tidak cukup untuk menjamin diagnosis resmi. Gangguan belajar, di sisi lain, adalah diagnosis klinis resmi, dimana individu memenuhi kriteria tertentu, sebagaimana ditentukan oleh seorang profesional (psikolog, dokter anak, dll) Perbedaannya adalah dalam tingkat, frekuensi, dan intensitas gejala yang dilaporkan dan masalah, dan dengan demikian keduanya tidak boleh bingung.

Faktor yang tidak diketahui adalah gangguan yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima dan memproses informasi. Gangguan ini bisa membuat masalah bagi seseorang untuk belajar dengan cepat atau dalam cara yang sama seperti seseorang yang tidak terpengaruh oleh ketidakmampuan belajar. Orang dengan ketidakmampuan belajar mengalami kesulitan melakukan jenis tertentu keterampilan atau menyelesaikan tugas jika dibiarkan mencari hal-hal dengan sendirinya atau jika diajarkan dengan cara konvensional.

Hal ini tidak berarti anak memiliki tingkat kecerdasan yang rendah. Untuk mengetahui apakah anak sedang mengalami kesulitan dalam belajar bisa dilihat dari waktu yang dibutuhkan dalam memahami suatu persoalan di buku. Dan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan otak anak dalam mengalahkan kesulitan belajarnya bisa dilihat dari hasil tes IQnya.
 
Anak-anak dengan Learning Disorder yang tidak di terapi, akan mempengaruhi kepercayaan diri mereka. Mereka berusaha lebih daripada teman-teman mereka, tetapi tidak mendapatkan pujian atau reward dari guru atau orang tua. Demikian pula, Learning Disorderyang tidak di terapi dapat menyebabkan penderitaan psikologis yang besar untuk orang dewasa.
Jenis gangguan baelajar :
  1. Disleksia (Dyslexia) adalah gangguan belajar yang mempengaruhi membaca dan /atau kemampuan menulis. Ini adalah cacat bahasa berbasis di mana seseorang memiliki kesulitan untuk memahami kata-kata tertulis.
  1. Diskalkulia (Dyscalculia) adalah gangguan belajar yang mempengaruhi kemampuan matematika. Seseorang dengan diskalkulia sering mengalami kesulitanmemecahkan masalah matematika dan menangkap konsep-konsep dasar aritmatika.
  1. Disgrafia (Dysgraphia) adalah ketidakmampuan dalam menulis, terlepas darikemampuan untuk membaca. Orang dengan disgrafia sering berjuang denganmenulis bentuk surat atau tertulis dalam ruang yang didefinisikan. Hal ini juga bisa disertai dengan gangguan motorik halus.
  1. Gangguan pendengaran dan proses visual (Auditory and visual processing disorders) adalah gangguan belajar yang melibatkan gangguan sensorik. Meskipun anak tersebut mungkin dapat melihat dan atau mendengar secara normal, gangguan ini menyulitkan mereka dari apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka akan seringmemiliki kesulitan dalam pemahaman bahasa, baik tertulis atau auditori (atau keduanya).
  1. Ketidakmampuan belajar nonverbal (Nonverbal Learning Disabilities) adalahgangguan belajar dalam masalah dengan visual-spasial, motorik, dan keterampilan organisasi. Umumnya mereka mengalami kesulitan dalam memahami komunikasi nonverbal dan interaksi, yang dapat mengakibatkan masalah sosial.
  2. Gangguan bahasa spesifik (Specific Language Impairment (SLI)) adalahgangguan perkembangan yang mempengaruhi penguasaan bahasa dan penggunaan.
 
Gangguan belajar "Disgrafia"
 
1.      PENGERTIAN DISGRAFIA
Disgrafia adalah kesulitan khusus dimana anak-anak tidak bisa menuliskan atau mengekspresikan pikirannya kedalam bentuk tulisan,karena mereka tidak bisa menyuruh atau menyusun kata dengan baik dan mengkoordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk menulis. Pada anak-anak, umumnya kesulitan ini terjadi pada saat anak mulai belajar menulis. Kesulitan ini tidak tergantung kemampuan lainnya. Seseorang bisa sangat fasih dalam berbicara dan keterampilan motorik lainnya, tapi mempunyai kesulitan menulis. Kesulitan dalam menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan belajar, terutama pada anak yang berada di tingkat SD.
Kesulitan dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai kebodohan oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja ia memiliki hambatan. Sebagai langkah awal dalam menghadapinya, orang tua harus paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar.
Gangguan ini juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si anak, ataupun keterlambatan proses visual motoriknya. Dysgraphia / Disgrafia adalah learning disorder dengan ciri perifernya berupa ketidakmampuan menulis, terlepas dari kemampuan anak dalam membaca maupun tingkat intelegensianya.Disgrafia diidentifikasi sebagai keterampilan menulis yang secara terus-menerus berada di bawah ekspektasi jika dibandingkan usia anak dan tingkat intelegensianya.
2.      PENYEBAB DISGRAFIA
Secara spesifik penyebab disgrafia tidak diketahui secara pasti, namun apabila disgrafia terjadi secara tiba-tiba pada anak maupun orang yang telah dewasa maka diduga disgrafia disebabkan oleh trauma kepala entah karena kecelakaan, penyakit, dan seterusnya. Disamping itu para ahli juga menemukan bahwa anak dengan gejala disgrafia terkadang mempunyai anggota keluarga yang memiliki gejala serupa. Demikian ada kemungkinan faktor herediter ikut berperan dalam disgrafia.
Seperti halnya disleksia, disgrafia juga disebabkan faktor neurologis, yakni adanya gangguan pada otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Anak mengalami kesuitan dalam harmonisasi secara otomatis antara kemampuan mengingat dan menguasai gerakan otot menulis huruf dan angka. Kesulitan ini tak terkait dengan masalah kemampuan intelektual, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar.
3.      CIRI-CIRI DISGRAFIA
Ada beberapa ciri khusus anak dengan gangguan ini. Di antaranya adalah:
a.       Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
b.      Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
c.       Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
d.      Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan.
e.       Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang alat tulis
f.       seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
g.      Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
h.      Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional.
i.        Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.
4.      CARA MEMBANTU ANAK DISGRAFIA
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak dengan gangguan ini. Di antaranya:
a.       Pahami keadaan anak
Sebaiknya pihak orang tua, guru, atau pendamping memahami kesulitan dan keterbatasan yang dimiliki anak disgrafia. Berusahalah untuk tidak membandingkan anak seperti itu dengan anak-anak lainnya. Sikap itu hanya akan membuat kedua belah pihak, baik orang tua/guru maupun anak merasa frustrasi dan stres. Jika memungkinkan, berikan tugas-tugas menulis yang singkat saja setiap hari. Atau bisa juga orang tua dari si anak
meminta kebijakan dari pihak sekolah untuk memberikan tes kepada anak dengan gangguan ini secara lisan, bukan tulisan.
b.       Menyajikan tulisan cetak
Berikan kesempatan dan kemungkinan kepada anak disgrafia untuk belajar menuangkan ide dan konsepnya dengan menggunakan komputer atau mesin tik. Ajari dia untuk menggunakan alat-alat agar dapat mengatasi hambatannya. Dengan menggunakan komputer, anak bisa memanfaatkan sarana korektor ejaan agar ia mengetahui kesalahannya.
c.       Membangun rasa percaya diri anak
Berikan pujian wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak. Jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan karena hal itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustrasi. Kesabaran orang tua dan guru akan membuat anak tenang dan sabar terhadap dirinya dan terhadap usaha yang sedang dilakukannya.
d.      Latih anak untuk terus menulis
Libatkan anak secara bertahap, pilih strategi yang sesuai dengan tingkat kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis. Berikan tugas yang menarik dan memang diminatinya, seperti menulis surat untuk teman, menulis pada selembar kartu pos, menulis pesan untuk orang tua, dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantunya menuangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk tulisan konkret

Adapun penanganan secara terstruktur dapat dilakukan melalui beberapa hal berikut:
1.      Faktor kesiapan menulis
Menulis membutuhkan kontrol maskular, koordinasi mata-tangan, dan diskriminasi visual. Aktivitas yang mendukung kontrol muskular antara lain: menggunting, mewarnai gambar, finger painting, dan tracing. Kegiatan koordinasi mata-tangan antara lain: membuat lingkaran dan menyalin bentuk geomteri. Sementara itu, pengembangan diskriminasi visual dapat dilakukan dengan kegiatan membedakan bentuk, ukuran, dan detailnya, sehingga anak menyadari bagaimana cara menulis suatu huruf.
2.      Aktivitas lain yang mendukung
a.      Kegiatan yang memberikan kerja aktif dari pergerakan otot bahu, lengan atas serta bawah, dan jari.
b.      Menelusuri bentuk geometri dan barisan titik.
c.       Menyambungkan titik.
d.      Membuat garis horizontal dari kiri ke kanan.
e.       Membuat garis vertikal dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.
f.       Membuat bentuk-bentuk lingkaran dan kurva.
g.      Membuat garis miring secara vertikal.
h.      Menyalin bentuk-bentuk sederhana.
i.        Membedakan bentuk huruf yang mirip bentuknya dan huruf yang hampir sama bunyinya.
3.      Menulis huruf lepas/cetak
a.      Perlihatkan sebuah huruf yang akan ditulis.
b.      Ucapkan dengan jelas nama huruf dan arah garis untuk membuat huruf itu.
c.       Anak menelusuri huruf itu dengan jarinya sambil mengucapkan dengan jelas arah garis untuk membuat huruf itu.
d.      Anak menelusuri garis tersebut dengan pensilnya.
e.       Anak menyalin contoh huruf itu di kertas/bukunya.
f.       Jika cara ini sudah dikuasai, mintalah anak menyambungkan titik yang dibentuk menjadi huruf tertentu, sampai akhirnya anak mampu membuat huruf dengan baik tanpa dibantu. Tahap selanjutnya adalah menulis kata dan kalimat.
4.      Menulis huruf transisi
Huruf transisi adalah huruf yang digunakan untuk melatih siswa sebelum menguasai huruf sambung. Adapun langkah-langkah pengajarannya sebagai berikut:
a.       Kata atau huruf ditulis dalam bentuk lepas atau cetak.
b.      Huruf yang satu dan yang lain disambungkan dengan titik-titik dengan meggunakan warna yang berbeda.
c.       Anak menelusuri huruf dan sambungannya sehingga menjadi bentuk huruf sambung.
5.      Menulis huruf sambung
a.      Mengajarkan huruf sambung dapat menggunakan langkah-langkah huruf lepas dan transisi.
b.      Kami sertakan tabel cara melatih anak disgrafia agar dapat menulis dengan baik dan benar.

Faktor
Masalah
Penyebabnya
Remedial
Bentuk
Huruf terlalu miring
Posisi kertas yang miring
Betulkan posisi kertas sehingga tegak lurus dengan badan
Ukuran
Terlalu besar dan terlalu tebal
  • Kurang memahami garis tulisan
  • Gerakan tangan yang kaku
  • Ajarkan kembali tentang konsep ukuran dan perjelas garis tulisan
  • Latih gerakan tangan, salah satu caranya dengan latihan membuat lingkaran atau bentuk lengkung
Spasi
  • Huruf dalam satu kata seperti menumpuk
  • Spasi antar-huruf terlalu lebar
  • Kurang memahami konsep spasi
  • Kurang memahami bentuk dan ukuran
         Ajarkan kembali konsep spasi antar-kata
         Kaji kembali konsep bentuk ukuran dan huruf
Kualitas garis
Terlalu tebal atau menekan terlalu tipis
Masalah pada tekanan tulisan
Perbaikilah cara-cara   memegang alat tulis, perbaiki juga gerakan tangan, serta beikan latihan menulis di atas kertas tipis dan kertas kasar
Kecepatan
Lambat ketika dalam menulis yaitu ketika menyalin atau saat dikte
Tingkat kemampuan menulis tidak sebanding dengan kecepatannya
Latih menarik garis lurus dengan cepat serta latihan membuat bentuk melingkar, tegak dan melengkung di kertas berpetak
Penanganan La
  • Mengidentifikasi masalah disgrafia, terdiri dari: masalah penggunaan huruf kapital, ketidakkonsistenan bentuk huruf, alur yang tidak stabil (tulisan naik turun) dan ukuran dan bentuk huruf tidak konsisten.
  • Menentukan ZPD pada masing-masing masalah tersebut. ZPD untuk kesalahan penggunaan huruf kapital. ZPD untuk ketidakkonsistenan bentuk huruf. ZPD untuk ketidakkonsistenan ukuran huruf. ZPD untuk ketidakstabilan alur tulisan.
  • Merancang program pelatihan dengan teknik scaffolding. Teknik scaffolding dalam pelatihan ini meliputi tahapan sebagai berikut.
  1. Memberikan tugas menulis kalimat yang didiktekan orang tua/guru.
  2. Bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kesalahan tulisan mereka.
  3. Menjelaskan mengenai pelatihan dan ZPD masing-masing permasalahan.
  4. Menjelaskan kriteria penulisan yang benar dan meminta anak menyatakan kembali kriteria tersebut.
  5. Memberikan latihan menulis dengan orang tua/guru memberikan bantuan.
  6. Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa bersama-sama dengan anak.
  7. Memberikan latihan menulis dengan mengurangi bantuan terbatas pada kesalahan yang banyak dilakukan anak.
  8. Mengevaluasi hasil pekerjaan bersama-sama dengan anak.
  9. Memberikan latihan menulis tanpa bantuan orang tua/guru.
  10. Mengevaluasi pekerjaan anak.
  • Pahami potensi dan kondisi anak Terutama bagi orang tua dalam menghadapi hal ini hendaknya orang tua mampu memahami potensi anak dann kemampuannya,jangan kita beranggapan anak yang mengalami masalah ini lalu langsung memvonis bahwa si anak bodoh atau malas.Tapi orang tua harus mampu membangkitkan kemampuan dan semangat si anak agar tidak kalah dengan teman-temannya.Orang tua tetap mensupport dan membimbingya dan terus melatih kemampuan menulisnya.
  • Menggunakan alat elektronik Cara lain yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah memberikan alat bantu elektronik kepada anak seperti Komputer ,lapto,atau notebook.Dengan menggunakan alat-alat tersebut si anak akan lebih mudah memahami kesalahan-kesalahannya dalam melakukan latihan menulis.
  • Melatih menulis anak Cara yang lain yang lebih baik adalah melatih anak untuk terus menulis secara bertahap dan usahakan agar anak tidak bosan dengan kegiatan tersebut.Adapun cara agar anak tidak mudah bosan untuk menulis adalah usahakan anak untuk menulis sesuatu yang dia sukai seperti menulis apa hal yang paling dia suka,hal yang sering dia lihat dan lainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar